Kampanye Iklan Rokok part;2
Ulasan Glossary #6
Serial DBBC-Black Buzz
Ulasan Glossary #6
Serial DBBC-Black Buzz
Lanjutan dari paragraph sebelumnya mengenai segment perokok pemula;
Kira-kira dari nilai harga eceren, segment ini saja akan menyumbang Rp. 300 Milyar[2]! Meskipun hanya sekitar 0.5% dari Rp. 57 Trilyun hasil cukai rokok tahun 2008, jumlah ini tetap manis rasanya. Kalau belanja iklan pada tahun yang sama Rp 1.4 Trilyun, diasumsikan ketiga produsen terbesar masing-masing mengeluarkan Rp 200 Milyar. Sebagian belanja iklan dapat dibiayai oleh penjualan baru, angka ini belum memperhitungkan perilaku big corporate membudget post ini sekitar 2 - 3 % dari revenuenya .
Ini jika asumsi "pesimistis" diatas benar. Padahal angka yang dimiliki oleh Forum Parlemen (kaukus di DPR yang terdiri dari Komisi I, Komisi III, Komisi IX, dan Komisi XI) bahkan menunjukkan angka 10 juta sebagai perokok pemula. Jika menggunakan angka optimis ini maka nilai kue penjualan dari rokok pemula adalah Rp.1.5 Trliyun
Citra bagi target pangsa ini tentunya berbeda dengan citra pembalap Formula 1 seperti pada ulasan sebelumnya. Citra yang dijual kepada kelompok pelajar umumnya berasosiasi dengan ; Chick, trendy ataupun "cool" sesuai dengan selera dan life style kelompok ini. Anda bisa melihat "TargetingKids"/ iklan-iklan masa lalu yang ditujukan pada pangsa pasar ini! Sebagian besar perokok pemula dikelompok ini biasanya akan terlatih "Kecanduan" rokok, jika berhasil berhenti merokok suatu saat masih ada kemungkinan untuk kembali merokok. Usia mereka adalah "Hook" atau "Anchorage" untuk semasa hidupnya, 30 tahun kedepan rasa nicotine yang tertanam didalam syarafnya akan membawa somehow someday pada konsumsi rokok kembali!
Pelarangan atau pembatasan iklan rokok akan menjadi agenda utama bagi keberhasilan kampanye anti merokok, karena sesungguhnya inti dari tujuan kampanye tersebut adalah perlindungan bagi usia belia. Baik dari sisi second smoke maupun sebagai pengguna. Disisi lain sebagai produsen tentunya posisinya akan semakin runyam, baik [1] maupun [2] secara pasti akan terus menggerus total penjualannya!
Kampanye Djarum Black paling tidak akan tetap mempertahankan PT. Djarum sebagai market leader ketiga terbesar, ini berarti volume penjualan harus naik! (Lho.....?) Angka penjualan tiga tahun terakhir menunjukkan trend peningkatan secara keseluruhan, jika volumenya tetap maka kuenya akan diambil alih oleh competitor! Resesi berdampak pada peningkatan konsumsi merokok, namun demikian trend terkini adalah rokok bernikotin dan tar rendah. Black Slimz, inovasi produk baru menampilkan packaging yang berbeda. Dengan masuknya Marlboro pada segmen rokok ringan, maka ukuran batang rokok Black Slimz yang jauh lebih kecil bisa jadi menjadi tumpuan harapan,
.....[bersambung pada artikel berikut]...
Kira-kira dari nilai harga eceren, segment ini saja akan menyumbang Rp. 300 Milyar[2]! Meskipun hanya sekitar 0.5% dari Rp. 57 Trilyun hasil cukai rokok tahun 2008, jumlah ini tetap manis rasanya. Kalau belanja iklan pada tahun yang sama Rp 1.4 Trilyun, diasumsikan ketiga produsen terbesar masing-masing mengeluarkan Rp 200 Milyar. Sebagian belanja iklan dapat dibiayai oleh penjualan baru, angka ini belum memperhitungkan perilaku big corporate membudget post ini sekitar 2 - 3 % dari revenuenya .
Ini jika asumsi "pesimistis" diatas benar. Padahal angka yang dimiliki oleh Forum Parlemen (kaukus di DPR yang terdiri dari Komisi I, Komisi III, Komisi IX, dan Komisi XI) bahkan menunjukkan angka 10 juta sebagai perokok pemula. Jika menggunakan angka optimis ini maka nilai kue penjualan dari rokok pemula adalah Rp.1.5 Trliyun
Citra bagi target pangsa ini tentunya berbeda dengan citra pembalap Formula 1 seperti pada ulasan sebelumnya. Citra yang dijual kepada kelompok pelajar umumnya berasosiasi dengan ; Chick, trendy ataupun "cool" sesuai dengan selera dan life style kelompok ini. Anda bisa melihat "TargetingKids"/ iklan-iklan masa lalu yang ditujukan pada pangsa pasar ini! Sebagian besar perokok pemula dikelompok ini biasanya akan terlatih "Kecanduan" rokok, jika berhasil berhenti merokok suatu saat masih ada kemungkinan untuk kembali merokok. Usia mereka adalah "Hook" atau "Anchorage" untuk semasa hidupnya, 30 tahun kedepan rasa nicotine yang tertanam didalam syarafnya akan membawa somehow someday pada konsumsi rokok kembali!
Pelarangan atau pembatasan iklan rokok akan menjadi agenda utama bagi keberhasilan kampanye anti merokok, karena sesungguhnya inti dari tujuan kampanye tersebut adalah perlindungan bagi usia belia. Baik dari sisi second smoke maupun sebagai pengguna. Disisi lain sebagai produsen tentunya posisinya akan semakin runyam, baik [1] maupun [2] secara pasti akan terus menggerus total penjualannya!
Kampanye Djarum Black paling tidak akan tetap mempertahankan PT. Djarum sebagai market leader ketiga terbesar, ini berarti volume penjualan harus naik! (Lho.....?) Angka penjualan tiga tahun terakhir menunjukkan trend peningkatan secara keseluruhan, jika volumenya tetap maka kuenya akan diambil alih oleh competitor! Resesi berdampak pada peningkatan konsumsi merokok, namun demikian trend terkini adalah rokok bernikotin dan tar rendah. Black Slimz, inovasi produk baru menampilkan packaging yang berbeda. Dengan masuknya Marlboro pada segmen rokok ringan, maka ukuran batang rokok Black Slimz yang jauh lebih kecil bisa jadi menjadi tumpuan harapan,
.....[bersambung pada artikel berikut]...